Rencana Kiev Gelar Latihan Peluncuran Misil Melewati Krimea Melanggar Hukum
Ukraina akan menggelar latihan peluncuran misil di atas Krimea, di ruang udara Federasi Rusia yang berdaulat, tanpa berkoordinasi dengan pihak Rusia, demikian dilaporkan Badan Transportasi Udara Federal Rusia Rosaviatsiya seperti dikutip RT. Peluncuran misil tersebut akan melewati rute rute penerbangan rute sipil dan negara, sehingga menciptakan risiko terulangnya kecelakaan pesawat seperti tragedi Malaysia Airlines MH-17.
Pihak Rusia mengecam rencana Kiev yang dianggap melanggar sejumlah hukum dan kesepakatan internasional, karena latihan militer tersebut tak hanya menginvasi wilayah Rusia, tapi juga tak dikoordinasikan dengan Moskow.
Pada Jumat (25/11), Kementerian Pertahanan Rusia menyuarakan protes melawan rencana Kiev untuk menerapkan pembatasan ruang udara di atas Laut Hitam dan Semenanjung Krimea terkait latihan peluncuran misil. Kementerian menghubungi atase militer Ukraina melalui nota diplomatik resmi.
Sehari sebelumnya, Ukraina merilis pemberitahuan untuk mengaktifkan 'zona berbahaya' pada semua level penerbangan di dekat Krimea dan kota Simferopol pada 1-2 Desember mendatang. Area 'berbahaya' tersebut termasuk laut terbuka yang menjadi wilayah tanggung jawab Rusia dan di merupakan wilayah perairan Rusia.
Pemberitahuan tersebut tak dikoordinasikan dengan pejabat terkait Rusia, terang Rosaviatsiya. "Hal ini menunjukkan ketidaksediaan Ukraina untuk menormalisasi lalu-lintas udara di atas Laut Hitam," terang pihak Rusia.
Kiev dianggap melanggar Kovensi Aviasi Sipil Internasional 1944 dan diminta untuk segera membatalkan aksi tersebut di ruang udara berdaulat Rusia.
Staf Jenderal Tentara Ukraina menolak mengomentari hal ini. Kepala Kantor Humas Staf Jenderal Ukraina Vladislav Seleznyov menyampaikan bahwa lembaganya tak berkapasitas untuk mengomentari informasi tersebut, tulis TASS.
Sementara, Sekretaris Desan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Aleksandr Turchinov menyampaikan bahwa ruang udara Rusia di atas Laut Hitam berakhir di tengah Selat Kerch dan Kiev tak berencana menggelar latihan peluncuran misil di wilayah tersebut.
"Sisa wilayah di bagian barat Selat Kerch adalah wilayah berdaulat Ukraina," kata Turchinov seperti dikutip TASS, secara implisit menyanggah legitimasi Referendum Krimea pada 2014 lalu.
Rencana latihan peluncuran misil tersebut berpotensi berbahaya bagi aviasi sipil, kata Rosaviatsiya, menambahkan bahwa hal itu bisa menciptakan tragedi seperti kecelakaan Malaysia Airlines MH17 di ruang udara Ukraina pada 2014 dan penembakan pesawat penumpang RUsia di Laut Hitam pada 2001.
Investigasi kecelakaan MH17 yang terjadi di Ukraina timur, menewaskan 298 orang, masih berjalan.
Insiden lain yang melibatkan misil militer di atas Laut Hitam terjadi pada Oktober 2001, ketika pesawat Siberia Airlines Tu-154 dari Tel-Aviv menuju Novosibirsk ditembak jatuh oleh misil yang diluncurkan militer Ukraina dalam latihan, menewaskan 78 orang.
Rusia telah mengumumkan maskapai domestik dan internasional mengenai rencana Kiev, terang perwakilan Rosaviatsiya pada stasiun TV Rossiya 24. Ia menambahkan bahwa Rusia akan melakukan semua langkah untuk memastikan keamanan penerbangan dan akan melarang semua penerbangan ke wilayah Krimea jika Ukraina tak membatalkan keputusannya.