World News in Indonesian

Jurnalis di Aleppo: Tulisan Saya dan Media Rusia Sejalan dengan Kebenaran

Seorang jurnalis asal Kanada yang mengecam pemberitaan dari media arus utama mengenai krisis Suriah dalam pertemuan PBB baru-baru ini. Ia kemudian mengatakan kepada RT bagaimana liputannya dituduh memihak Rusia dan pemerintah Suriah, tulis RT, Sabtu (17/12).

Eva Bartlett, seorang jurnalis lepas dan aktivis Hak Asasi Manusia yang memiliki blognya sendiri di situs RT baru-baru ini, memicu perdebatan panas lewat pidato emosionalnya di forum PBB. Dalam konferensi pers terkait misi di Suriah yang digelar PBB, Bartlett mengecam liputan media mainstream Barat mengenai perang Suriah dengan sebutan ‘memalukan,’ dengan mengatakan bahwa narasumber lokal mereka 'tidak kredibel' dan, dalam kasus Aleppo bahkan tidak nyata.

Sang jurnalis yang telah meliput peristiwa di Suriah sejak mulai pecahnya perang sipil menyatakan bahwa saat ada “jurnalis yang benar-benar jujur di antara lembaga media yang sangat berkompormi,” banyak media terkemuka tampak menghindari pengecekan fakta. Bartlett mendapat respon keras atas kritiknya yang tak kenal ampun dari rekan media tampak tidak berdasar, kata Bartlett kepada RT.

“Beberapa orang mempermasalahkan hal-hal yang saya katakan karena pada dasarnya saya banyak mengkritik perusahaan media yang melaporkan Suriah, dan bukannya benar-benar mencerna apa yang saya katakan dan mengkritik rincian apa yang saya katakan, orang-orang telah melakukan taktik biasa dengan mencoba menjelekan saya dan mengartikan saya sebagai agen dari Suriah dan Rusia,” kata Bartlett, menambahkan bahwa sudah tersirat secara terbuka bahwa Bartlett dibayar oleh pemerintah Suriah dan Rusia.

Fakta bahwa Bartlett adalah seorang kontibutor aktif untuk rubrik op-edge RT juga dibawa-bawa.

“Fakta bahwa saya menjadi kontributor untuk rubrik op-edge RT ternyata, di mata beberapa orang, membuat saya berkompromi. Saya mulai menjadi kontributor untuk rubrik op-edge RT saat saya tinggal di Gaza, dan ini bukanlah sebuah isu untuk orang-orang yang menghargai tulisan saya,” kata Bartlett.

Bartlett juga membantah pernyataan bahwa pemerintah Suriah membayarnya untuk berbicara di PBB.

“Bukan pemerintah Suriah yang menyuruh saya berbicara di PBB. Itu adalah permintaan saya sendiri, dan saya meminta ini karena... saya rasa ini adalah sebuah kesempatan baik untuk memberitahu khalayak luas apa yang saya lihat dalam kunjungan independen saya ke Suriah.”

“Satu-satunya hal yang berkaitan dengan pemerintah Suriah dalah kedutaan besar Suriah... untuk PBB yang menyetujui untuk memberikan fasilitas ini,” katanya.

Berdasarkan pidato PBB Bartlett, perusahaan media melaporkan informasi yang berlawanan dengan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, sedangkan laporannya berasal dari interaksi pribadi dengan warga Suriah selama kunjungannya yang keenam kali ke negara yang tengah dilanda perang tersebut.

“Apa yang saya tulis, apa yang saya laporkan, dan siapa yang saya kutip adalah warga sipil Suriah yang saya temui di sana. Jika masyarakat tidak mau mendengar suara warga sipil Suriah dan jika mereka ingin terus menjaga narasinya yang sejalan dengan narasi NATO – yang juga sejalan dengan mengacaukan Suriah dan mencemari pemerintah Suriah dan mengabaikan keinginan besar masyarakat Suriah – maka mereka melakukan ini dengan menuduh saya menyebarkan propaganda,” sang jurnalis menekankan.

Barat memandang RT sebagai media propaganda dari pemerintah Rusia, hubungan Bartlett dengan RT telah digunakan sebagai dasar untuk menuduhnya melaporkan berita palsu karena berbeda dari gambaran krisis Suriah yang ditunjukan oleh media mainstream Barat, klaimnya.

“Kenyataan bahwa saya menulis tentang apa yang saya saksisan di Suriah saat saya berada di sana, saat saya berbicara dengan warga sipil Suriah – dan saya terkadang menjadi kontributor Russia Today – tiba-tiba menjadi masalah.”

“Saya adalah seorang jurnalis lepas, saya menulis untuk siapapun yang saya mau. Saya memasukan sebuah artikel ke rubrik op-edge Russia Today dan mereka yang memutuskan apakah mereka akan menerbitkannya atau tidak – begitulah cara kerjanya,” terang Bartlett, menyatakan bahwa alasan bahwa laporannya sama denga media Rusia mungkin karena keduanya sama-sama akurat.

“Fakta bahwa tulisan saya sama dengan orang-orang Suriah... di beberapa bagian sejalan dengan laporan media Rusia, bukan berarti saya melaporkan propaganda Rusia, dan itu bukan berarti bahwa laporan media Rusia adalah propaganda. Pada kenyataannya bahwa saya melaporkan apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan, dan beberapa media Rusia ternyata juga melaporkan apa  sesungguhnya mereka lihat di lapangan.”

“Mengapa kita tidak melihat tuduhan ini ketika jurnalis BBC pergi ke Suriah dan melaporkan apa yang sering saya percaya buka cerita lengkapnya? Mengapa mereka tidak dituduh bekerja untuk Inggris? Mengapa jurnalis Al Jazeera tidak dituduh bekerja untuk Qatar?” tanya Bartlett, menambahkan bahwa seluruh 'tuduhan yang diberikan' adalah serangan untuk mendiskreditkan apa yang ia sampaikan.

Perang Suriah yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir kini kian panas dengan terpicunya 'perang informasi' antara media Barat dengan situasi nyata di Suriah. Kekisruhan ini tak hanya berada di media mainstream, tapi juga merambah hingga ke media sosial melalui akun selebtwit cilik yang disebut-sebut sebagai 'Anne Frank Aleppo' namun memiliki banyak kejanggalan di dalamnya.

Читайте на сайте