World News in Indonesian

Hubungan Kian Membaik, Rusia Mungkin Akan Jual Senjata ke Filipina

Kunjungan Presiden Filipina Rodrigo Duterte ke Rusia musim semi mendatang mungkin akan mengubah sikap kedua negara yang selama ini cenderung menghindari satu sama lain.  Namun, ketika tahun lalu Moskow dan Manila akhirnya mulai berdiskusi soal kerjasama pertahanan, para ahli percaya bahwa kooperasi di bidang ini akan terbatas.

Tidak ada aliansi militer

Kendati sambutan hangat Duterte terhadap Moskow, Duta Besar Filipina untuk Rusia Carlos Sorreta mengatakan kepada RBTH bahwa Perjanjian Kerjasama Militer (DCA) antara kedua negara – yang saat ini sedang dipersiapkan – tidak akan berujung pada terbentuknya aliansi militer.

Ia mengatakan bahwa perjanjian tersebut “berfokus pada kegiatan yang dirancang untuk membangun saling pengertian antara kekuatan kedua negara melalui kunjungan, pertukaran informasi, dan pelatihan”.

Selain DCA, “sejumlah perjanjian terkait pertahanan” juga sedang dipertimbangkan, tambah sang duta besar.

Perjanjian-perjanjian tersebut nampaknya tidak mungkin mendalam, demikian menurut Anton Tsvetov, peneliti dari Pusat Penelitian Strategis yang berbasis di Moscow. “Ini ada hanya karena hubungan bilateral Moskow dan Manila tidak pernah memprioritaskan pertahanan, karena Filipina beraliansi dengan Amerika Serikat (AS),” ujar nya kepada RBTH.

Ia menambahkan bahwa dokumen perjanjian mungkin berbentuk memorandum, yang hanya “meletakkan fondasi kerjasama baru”. Senada dengan Sorreta, menurut Tsvetov, kerjasama kemungkinan berkisar seputar pengawasan pelatihan militer, saling bertamu, serta kunjungan kapal.

Standar NATO bukan halangan

Ketika ditanya mengenai potensi membeli senjata dari Rusia, duta besar Sorreta secara diplomatik menjawab, “Filipina sedang mencari perlengkapan militer yang tersedia dari beberapa negara, termasuk Rusia.”

Ia menambahkan bahwa negaranya sedang mencari “senjata ringan, drone pengawasan, pesawat rotary-wing, dan kapal angkatan laut.” Meski Sorreta tidak menjelaskan lebih rinci, daftar ini cukup untuk memulai spekulasi senjata apa yang Moskow dapat tawarkan ke Filipina.

Fakta bahwa kebanyakan perlengkapan militer Filipina dipasok AS tidak perlu dilihat sebagai halangan, ujar Vasily Kashin dari Institut Studi Timur Tengah kepada RBTH.

“Di satu sisi, ada banyak contoh sistem senjata Rusia yang digunakan negara-negara NATO, dan di sisi lain, banyak senjata Filipina yang sudah usang dan tidak modern,” kata nya.

Senapan dan helikopter

Kashin mengatakan bahwa “senjata ringan” yang disebut Sorreta mungkin saja senapan dan senapan mesin. “Mungkin Filipina ingin memasok sedikit senjata untuk tim khusus mereka. Sebagai contoh, sniper kelas berat kaliber 12.7 mm seperti Vzlomshik (Cracker) atau Vikhlop (Exhaust). Atau yang kedap suara seperti Vintorez – biasa digunakan unit antiteror.”

Untuk pesawat rotary-wing, Kashin menyebut “helikopter multifungsi Mi-17 dan helikopter serangan Mi-35”, yang dapat membantu upaya Manila mengatasi para pemberontak dan teroris. Kendaraan berlapis baja seperti GAZ Tiger dan Sukhoi Su-25 Frogfoot juga dapat digunakan Filipina.

“Dalam beberapa kasus, Filipina tidak butuh senjata terbaru yang mutakhir, jadi Rusia dapat menjual perlengkapan militer dari era Soviet yang hanya perlu sedikit pembaharuan,” Kashin menambahkan.

Tidak ada tujuan strategis

Pakar mengatakan bahwa penjualan senjata akan menguntungkan Kremlin karena mereka tidak punya tujuan strategis untuk menjadikan Filipina aliansi.

“Jika kemudian Manila mengizinkan Rusia mengunjungi pelabuhan mereka, itu sudah cukup,” kata Victor Sumsky, Direktur ASEAN Centre di MGIMO. “Tensi tidak penting antara AS dan Filipina bukan urusan Moskow.”

Читайте на сайте