Seberbahaya Apakah "Intervensi" Terbaru NATO Terhadap Rusia?
Pada Rabu (15/2) dan Kamis, NATO mengambil dua langkah yang patut Rusia jadikan perhatian. Yang pertama: menteri-menteri pertahanan negara-negara Baltik menandatangani perjanjian yang mengizinkan pasukan NATO untuk masuk ke daerah mereka dan mendekati perbatasan tanah mereka dengan Rusia. Yang kedua, Menteri Pertahanan AS yang baru, James Mattis, menyatakan bahwa AS harus membangun hubungan dengan Rusia melalui posisi kekuatan.
Moskow, seperti diungkapkan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu, ragu dengan pendekatan AS tersebut dalam berdialog dengan Rusia, dan menurutnya perlu ada penjelasan lebih lanjut dari Washington.
RBTH melihat bagaimana dua langkah ini dapat membahayakan Rusia.
Belum ada tindakan balasan sampai saat ini
Para ahli percaya bahwa tidak ada yang luar biasa dari penempatan permanen 4,000 tentara NATO di perbatasan Rusia, seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, serta perjanjian terbaru mengenai gerakan pasukan mereka ke perbatasan antara negara-negara Baltik dan Rusia. Hal ini dikarenakan blok Barat tersebut pada dasarnya tidak melanggar kesepakatan Rusia-NATO tahun 1997. Dalam keputusan tersebut, kedua pihak setuju bahwa NATO tidak akan mengerahkan kontingen dalam jumlah signifikan di dekat daerah Rusia.
Vladimir Yevseyev, pakar militer dan Wakil Direktur Institut CIS, percaya bahwa dokumen yang baru saja diteken oleh menteri-menteri pertahanan negara-negara Baltik terhitung teknis dan tidak akan mengakibatkan perubahan signifikan di dalam wilayah Rusia.
Untuk alasan itu, ujarnya, Rusia tidak akan mengambil langkah agresif yang dapat menimbulkan konflik lebih jauh dengan NATO. “Rusia hanya akan bereaksi apabila benar-benar ada perubahan di dekat perbatasannya, misalnya pengerahan sistem senjata ofensif dan kontingen militer,” demikian diungkap Dmitry Sagonov, analis militer di harian Izvestia, kepada RBTH.
“Untuk saat ini, Kementerian Pertahanan Rusia akan tetap bertindak normal dalam rencana mengembangkan angkatan bersenjatanya sampai 2025 seperti yang sudah disetujui presiden. Rencana ini tidak akan diubah sama sekali.”
Berkenaan dengan rencana militer tersebut, Safonov mengatakan bahwa Rusia telah mengembangkan unit-unit baru di Distrik Militer Barat dan berusaha melengkapi pasukan-pasukannya dengan sistem persenjataan canggih.
Untuk tindakan balasan terkait tindakan NATO, pada Januari 2016 Shoigu mengatakan bahwa tiga divisi pasukan akan dibentuk di Rusia (yang akan membuat kekuatan pasukan perdamaian meningkat menjadi 13,000).
Bagaimana merespons Mattis?
Berdasarkan opini-opini pakar yang dikumpulkan RBTH, Rusia harus menghindari reaksi berlebihan yang dapat memperburuk hubungan dengan NATO. “Kita harus bekerja secara diam-diam dalam memodernisasi tentara dan perekonomian kita, sementara terus-menerus berupaya meraih kesepahaman bersama,” ujar Valery Garbuzov, Direktur Institut Studi AS dan Kanada.
“Mattis mewakili generasi petugas militer terang-terangan yang sadar bahwa isyarat simbolis seperti mengerahkan empat batalion ke negara-negara Baltik (dan Polandia) tidak akan menjadi konflik yang terlalu serius dengan Rusia,” kata Fyodor Lukyanov, pemimpin redaksi majalah Russia in Global Affairs, kepada RBTH.
Ia menambahkan bahwa kebijakan berbasis kekuatan dari Washington ke Rusia berarti AS akan meningkatkan potensi nuklir dan perlengkapan angkatan bersenjatanya: “AS memasuki periode bentuk pemerintahan Republik klasik dengan memperlihatkan kesiapan menggunakan kekuatannya. Dalam hal ini, Mattis akan menjadi utusan yang tepat bagi Presiden Trump.”
Sejauh ini, bagaimanapun juga, AS belum mengambil langkah konkret yang tegas, jadi masih terlalu dini untuk menerka akan seperti apa reaksi Rusia.