World News in Indonesian

Sejarah Ho Chi Minh, Tokoh Komunis Vietnam yang Kerap Dituduh Antek Stalin

Jauh sebelum Ho Chi Minh menjadi Presiden Republik Demokratik Vietnam — dikenal dengan nama Vietnam Utara — pada 1945, sang revolusioner hidup berpetualang di Eropa. Di 1920, ketika umurnya masih 30, Ho merupakan salah satu penemu Partai Komunis Perancis yang berlokasi di Paris, dan tiga tahun kemudian ia pindah ke Moskow.

“Tidak hanya paham komunis garis keras yang membuat Ho Chi Minh datang ke Moskow. Yang utama adalah seruan Lenin kepada proletar Barat yang terjajah untuk mendukung revolusi nasionalis,” ujar Nguyen Thanh Khu, peneliti dari ibu kota Vietnam, Hanoi, yang mendalami Uni Republik Sosialis Soviet (URSS) pada 1990an.

“Selain itu, upaya Ho dalam perlawanan orang Vietnam terhadap kolonialisme Perancis di Paris juga terdengar sampai kuping penguasa-penguasa di Moskow.”

Dalam tiga tahunnya di Paris, Ho memublikasikan dua jurnal antikolonial.

Pemimpin Komunis Vietnam Ho Chi Minh, duduk dibawah, dengan beberapa delegasi lain dalam Kongres Komunis Internasional kelima di Moskow tahun 1924. Sumber: RIA Novosti

Membangun komunitas di Tiongkok

Di Moskow, Ho Chi Minh belajar di Universitas Komunis Kaum Pekerja dari Timur milik Comintern, sebuah organisasi internasional dari Uni Soviet yang bertujuan menyebarkan paham komunisme di seluruh dunia.

“URSS tidak cukup siap dan kuat saat itu untuk membantu gerakan kebebasan di Vietnam, tapi mereka ingin membangun gerakan revolusi di negara-negara terjajah,” ujar Khu.

Setelah dua tahun di Moskow, Ho pindah ke Kanton (sekarang Guangzhou) di selatan Tiongkok, dan bekerja sebagai penerjemah di Badan Telegraf Rusia (sekarang TASS).

Hingga delapan tahun kemudian, Ho berkali-kali ditangkap pihak berwajib Tiongkok karena sering kali memobilisasi pendukung komunisme. Untuk menghindar, ia pindah dari satu kota ke kota lainnya di Tiongkok.

Ho ditangkap oleh Britania pada 1931 di Hong Kong, dan dipenjara selama dua tahun. Supaya Ho tidak diekstradisi ke pemerintah kolonialis Perancis, Britania Raya memalsukan kematian Ho lalu membebaskannya. Sang pemimpin Vietnam mampu sembunyi di Tiongkok sebelum mendapat cukup uang untuk pindah ke Vladivostok, Uni Soviet, dan berkelana ke banyak kota sebelum tiba di Moskow pada 1934.

Murid di institut komunis

“Ho tidak disambut layak pahlawan saat kedatangannya di pertengahan 1934. Sebaliknya, ia langsung dikirim ke sekolah Lenin untuk digembleng,” sebagaimana ditulis Sophie Quinn Judge dalam buku “Ho Chi Minh: Tahun-tahun yang Hilang. 1919-1941” Ho kemudian dipinggirkan dari Partai Komunis dan Comintern, dan tidak mendapat peran disana.

Ia kemudian belajar di Institut Persoalan Nasional dan Penjajahan, dan kemudian mengajar disana hingga 1938.

“Mengetahui bahwa Ho ingin menciptakan sistem nasionalisme dan komunisme khas Asia, tahun-tahun terakhirnya di Moskow adalah pengalaman berharga yang membuatnya mampu memimpin perjuangan melawan orang-orang Perancis dan AS,” ujar Khu. “Tujuan utamanya di Moskow adalah mengubah Tiongkok menjadi Komunis dan ramah terhadap Vietnam, lalu menolong negaranya menendang Perancis keluar.”

Tokoh yang disalahpahami

Khu mengatakan bahwa sang pemimpin Vietnam sampai sekarang sering disalahpahami, utamanya karena cerita-cerita palsu mengenai kehidupannya setelah ia meninggal. Ho sering dianggap mata-mata Rusia, tambah Khu.

“Ho bukanlah kaki tangan Joseph Stalin (pemimpin URSS kala itu), mereka berdua tidak pernah berbicara langsung sampai 1950,” tulis Quinn-Judge.

Ho akhirnya bertatap muka dengan Stalin dan pemimpin tangan besi Tiongkok Mao Zedong di awal 1950an. URSS dan Tiongkok kemudian mengakui rezim Ho sebagai pemerintahan yang sah di Vietnam Utara.

Ho Chi Minh meninggal sebelum akhir Perang Vietnam, dan spesialis dari Rusia mengawetkan tubuhnya, yang hingga kini dapat dilihat di Hanoi.

Adalah Uni Soviet dan Tiongkok yang pada akhirnya membantu Vietnam Utara mengalahkan AS. Vietnam saat ini berpaham komunis, dengan Ho Chi Minh dilihat sebagai sosok berpengaruh.

Dengan reformasi pasar dan keterbukaan terhadap investasi asing, Vietnam menjadi salah satu ekonomi paling cepat tumbuh di Asia. Sekarang di Ho Chi Minh City (bekas Saigon), bendera merah dengan muka sang pemimpin berkibar di langit.

Читайте на сайте